Rabu, 23 September 2026

MENGENAL BAHASA INDONESIA: ABJAD SAMPAI PARAGRAF

1. Huruf Abjad dan Pengelompokannya

Sistem ejaan Bahasa Indonesia menggunakan 26 huruf abjad Latin (A–Z) yang diatur dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) / Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

a) Huruf Vokal (Huruf Hidup)

Huruf yang menghasilkan bunyi tanpa ada hambatan pada pita suara. Terdiri dari 5 huruf : a, e, i, o, u.

Contoh: air, emas, ikan, obat, ular.

b) Huruf Konsonan (Huruf Mati)

Huruf yang pelafalannya terhambat oleh bibir, lidah, atau gigi. Terdiri dari 21 huruf : b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, z.

Contoh: buku, meja, rumah.


2. Suku Kata (Silabel)

Suku kata adalah bagian kata yang diucapkan dalam satu hembusan napas dan mengandung minimal satu bunyi vokal.

a) Pola Dasar Suku Kata:

V (Vokal) : a -pa, u -da-ra

KV (Konsonan + Vokal): sa -tu, bu -ku

VK (Vokal + Konsonan): ai r, an -tar

KVK (Konsonan + Vokal + Konsonan): ma -k an , ru -m ah

b) Penggalan Suku Kata:

Pena: pe - na (2 suku kata)

Membaca: mem - ba - ca (3 suku kata)

Pendidikan: pen - di - di - kan (4 suku kata)


3. Kata

Kata adalah gabungan dari satu atau beberapa suku kata yang memiliki makna.

a) Kata Dasar: Kata murni yang belum mendapat tambahan atau penambahan.

Contoh: buka , jalan, makan, tulis.


b) Kata Berimbuhan (Afiksasi): Kata dasar yang diberi imbuhan untuk mengubah fungsi atau maknanya.

Awalan (Awalan): me- +baca ; membaca

Sufiks (Akhiran): makan + -an ; makanan

Infiks (Sisipan): tunjuk + -el- ; telunjuk

Konfiks (Gabungan Awalan & Akhiran): per- + satu- an  persatuan


c) Kata Ulang (Reduplikasi): Kata yang mengalami berulang.

Utuh: anak-anak

Berimbuhan: berjalan-jalan

Berubah bunyi: sayur-mayur


4. Paragraf

Paragraf adalah kumpulan kalimat yang padu, disusun secara sistematis, dan membahas satu gagasan utama.

a) Struktur Paragraf

  • Kalimat Utama (Topik): Kalimat yang mengandung ide/gagasan inti paragraf.

  • Kalimat Penjelas (Pendukung): Kalimat-kalimat yang berfungsi memberikan rincian, contoh, atau fakta pendukung untuk menjelaskan kalimat utama.

b) Jenis Paragraf Berdasarkan Letak Kalimat Utama

1) Paragraf Deduktif (Awal Paragraf)

Ide pokok disampaikan di awal, lalu diikuti rincian penjelas.

Contoh:

Pohon kelapa merupakan tumbuhan yang sangat serbaguna. Batangnya dapat digunakan sebagai bahan bangunan rumah. Daunnya sering dimanfaatkan untuk membuat ketupat dan kerajinan tangan. Selain itu, buahnya bisa diminum airnya dan diolah dagingnya menjadi minyak.

2) Paragraf Induktif (Akhir Paragraf)

Disajikan rincian khusus terlebih dahulu, lalu diakhiri dengan simpulan/ide pokok.

Contoh:

Tanaman jagung memerlukan penyiraman teratur agar tumbuh subur. Pemupukan secara berkala juga wajib diberikan untuk menjaga kecukupan nutrisi tanah. Tidak lupa, penyiangan gulma harus dilakukan agar tanaman tidak terserang hama. Oleh karena itu, perawatan tanaman jagung memerlukan perhatian yang teliti.

3) Paragraf Campuran (Awal dan Akhir)

Ide pokok diawali di depan dan ditegaskan kembali di akhir paragraf.

Contoh:

Hutan memiliki peran penting sebagai paru-paru dunia. Tumbuh di dalam hutan menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen yang dibutuhkan makhluk hidup. Tanpa keberadaan hutan, kualitas udara di bumi akan memburuk secara signifikan. Oleh karena itu, kelestarian hutan harus terus kita jaga demi kelangsungan hidup manusia.


Senin, 07 September 2026

PENGGUNAAN HURUF KAPITAL

 


Dalam pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) Edisi V, aturan mengenai awal kalimat dan awal kalimat dalam petikan langsung merupakan fondasi dasar dari keseluruhan sistem kapitalisasi. Aturan-aturan ini mengatur penulisan berdasarkan struktur atau posisi kata di dalam kalimat, sebelum pedoman beralih ke aturan yang bersifat leksikal seperti nama orang, geografi, atau gelar.
Berikut adalah pembahasan mendalam mengenai apa yang dinyatakan oleh sumber-sumber aturan tersebut:

1. Huruf Pertama Awal Kalimat
Aturan paling mendasar dalam kapitalisasi adalah penggunaan huruf kapital sebagai huruf pertama awal kalimat. Aturan ini bersifat mutlak dan berlaku untuk berbagai jenis kalimat, baik kalimat tanya, kalimat perintah, maupun kalimat berita.
  • Contoh:
    • "Apa maksudnya?" (kalimat tanya)
    • "Tolong ambilkan buku itu!" (kalimat perintah)
    • "Kita harus bekerja keras." (kalimat pernyataan)
    • "Pekerjaan itu belum selesai."
2. Awal Kalimat dalam Petikan Langsung
Aturan petikan langsung mengatur bagaimana huruf kapital digunakan pada awal kalimat di dalam tanda petik. Penerapannya memiliki beberapa variasi penting yang bergantung pada struktur kalimatnya:
  • Petikan langsung yang berdiri sendiri atau berada di awal/akhir kalimat: Huruf pertama dari kalimat yang berada di dalam petikan langsung harus ditulis dengan huruf kapital.
    • Contoh: Ibu berpesan, "Berhati-hatilah, Nak!" (atau Bapak menasihatkan, "Berhati-hatilah, Nak!").
    • Contoh: "Mereka berhasil meraih medali emas," katanya.
  • Petikan langsung yang terbagi oleh kata penyerta (Speaker Tag): Jika kalimat petikan langsung terputus di tengah jalan oleh jeda penyerta (seperti kata Rino atau kata Ibu), maka bagian kedua dari petikan tersebut tidak menggunakan huruf kapital pada huruf pertamanya karena masih merupakan kelanjutan dari satu kalimat utuh yang sama.
    • Contoh: "Besok pagi," kata Rino, "mereka akan berangkat.". Di sini, kata "mereka" ditulis dengan huruf kecil karena kalimat petikannya belum selesai.

3. Agama, Kitab Suci, dan Tuhan
  • Nama Agama: Ditulis kapital pada huruf pertama, seperti Buddha, Hindu, Islam, Kristen, dan Konghucu.
  • Kitab Suci: Ditulis kapital pada huruf pertama, seperti Al-Qur'an, Alkitab, dan Weda (pedoman gaya Wikipedia juga mencatat variasi penulisan Quran).
  • Nama Tuhan dan Sebutan-Nya: Ditulis kapital pada huruf pertama, seperti Allah dan Tuhan. Ini juga mencakup frasa sebutan Tuhan, seperti Yang Maha Kuasa (atau Yang Mahakuasa dan Yang Maha Pengasih pada versi terdahulu).

4. Kata Ganti Tuhan (Nya, Engkau)
  • Kata Ganti Tuhan: Menggunakan huruf kapital pada awal kata ganti yang merujuk pada Tuhan, termasuk kata ganti akhiran yang dirangkai dengan tanda hubung, seperti -Nya (misalnya: jalan-Nya) dan -Mu (misalnya: bimbinglah hamba-Mu), serta kata ganti Engkau.
  • Singkatan Nama Tuhan: Huruf pertama pada singkatan nama Tuhan ditulis kapital, contohnya YME (Yang Maha Esa) dan Swt. (Subhanahuwataala).

5. Unsur Nama Orang dan Julukan
Secara umum, huruf pertama setiap unsur nama orang wajib ditulis dengan huruf kapital. Namun, terdapat tiga aturan turunan dan pengecualian penting yang harus dicermati:
  • Nama Orang yang Diikuti Julukan: Julukan yang melekat pada seseorang atau tokoh sejarah juga ditulis dengan huruf kapital pada huruf pertamanya.
    • Contoh: Amir Hamzah, Dewi Sartika, Bapak Koperasi, Jenderal Kancil.
  • Pengecualian Nama Orang sebagai Satuan atau Nama Jenis: Huruf kapital tidak digunakan jika nama orang tersebut telah bergeser fungsi menjadi nama jenis benda atau satuan ukuran.
    • Contoh: 5 ampere, 15 watt (nama fisikawan André-Marie Ampère & James Watt), mesin diesel (Rudolf Diesel), ikan mujair (Mujair).
  • Pengecualian Kata 'Anak Dari' (Bin, Binti, Boru, Van): Kata penunjuk keturunan seperti bin, binti, boru, atau penunjuk asal van tidak ditulis kapital, kecuali jika berada di awal nama atau diikuti kata tugas dari.
    • Contoh: Abdul Rahman bin Zaini, Indani boru Sitanggang, Ayam Jantan dari Timur, Van Basten.
  • Nama Orang dalam Hukum, Teori, dan Rumus: Nama orang yang diabadikan dalam penemuan ilmiah tetap ditulis menggunakan huruf kapital.
    • Contoh: teori Darwin, hukum Archimedes, rumus Phytagoras.

6. Gelar Kehormatan, Keturunan, Keagamaan, dan Akademik
Penulisan gelar dalam EYD V diatur secara ketat berdasarkan hubungannya dengan nama orang yang menyandangnya:
  • Gelar yang Diikuti Nama Orang: Huruf pertama dari unsur gelar kehormatan, kebangsawanan, keturunan, keagamaan, akademik, atau jabatan wajib ditulis kapital jika diikuti oleh nama orang yang menyandangnya.
    • Contoh: Mahaputra Yamin, Sultan Hasanuddin, Kiai Haji Hasjim Asy'ari, Doktor Mohammad Hatta, Wakil Presiden Adam Malik.
  • Gelar yang Tidak Diikuti Nama Orang: Gelar yang ditulis tanpa diikuti nama diri (merujuk pada gelar secara umum) ditulis dengan huruf nonkapital.
    • Contoh: Dia baru saja diangkat menjadi sultan; Siapa gubernur yang baru dilantik itu?.
  • Gelar sebagai Sapaan Langsung: Jika gelar kehormatan, jabatan, profesi, atau kepangkatan digunakan untuk menyapa seseorang secara langsung (tanpa menyebutkan namanya), huruf pertamanya wajib kapital.
    • Contoh: Selamat pagi, Dokter; Terima kasih, Kiai; Siap, Jenderal.

7. Singkatan Gelar
Dalam naskah akademik maupun dokumen resmi, penulisan singkatan gelar harus mengikuti aturan tanda baca yang presisi:
  • Tanda Titik di Setiap Unsur: Setiap unsur singkatan gelar diakhiri dengan tanda titik (.)
    • Contoh Sarjana: S.E. (Sarjana Ekonomi), S.Pd. (Sarjana Pendidikan), S.Kom. (Sarjana Komputer).
    • Contoh Pascasarjana: M.Si. (Magister Sains), M.Psi. (Magister Psikologi).
  • Kasus Khusus "Doktor (S3)" vs "Dokter (Medis)": Sumber-sumber Anda menegaskan perbedaan krusial yang sering memicu kesalahan:
    1. Gelar akademik S3 (Doktor) ditulis di depan nama dengan huruf awal kapital: Dr.
    2. Gelar profesi medis (dokter) ditulis di depan nama dengan huruf kecil seluruhnya: dr.
    3. Contoh: Dr. Bangun Ardiyanto (Doktor S3) vs dr. Sri Pujiati (Dokter Medis).

8. Jabatan dan Pangkat
a. Aturan Utama: Diikuti Nama Orang atau Sebagai Pengganti
Huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat wajib ditulis dengan huruf kapital jika memenuhi salah satu dari kondisi berikut:
  • Diikuti langsung oleh nama orang
    • Contoh: Wakil Presiden Adam Malik, Perdana Menteri Nehru, Profesor Anton M. Moeliono (atau Profesor Supomo), dan Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara.
  • Digunakan sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempatt.
    • Contoh: Proklamator Republik Indonesia (merujuk pada Soekarno-Hatta), Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri, dan Gubernur Papua Barat.
b. Pengecualian: Jabatan dan Pangkat yang Ditulis Nonkapital (Huruf Kecil)
Sebaliknya, huruf kapital tidak digunakan jika nama jabatan dan pangkat tersebut tidak diikuti oleh nama orang, nama instansi, atau nama tempat. Dalam konteks ini, kata tersebut hanya berfungsi sebagai kata benda umum (nomina generik).
  • Contoh: "Siapa gubernur yang baru dilantik itu?"
  • Contoh: "Kemarin Brigadir Jenderal Ahmad dilantik menjadi mayor jenderal."
c. Jabatan dan Pangkat dalam Kategori Sapaan dan Singkatan
Dalam konteks "Nama dan Gelar" yang lebih luas, jabatan dan pangkat juga tunduk pada aturan sapaan langsung serta penulisan singkatan:
  • Sebagai Sapaan Langsung: Jika Anda menyapa seseorang langsung menggunakan pangkat atau jabatannya (tanpa menyebut nama orangnya), huruf pertamanya wajib ditulis kapital.
    • Contoh: "Siap, Jenderal." atau "Silakan duduk, Prof.".
  • Penulisan Singkatan Pangkat: Huruf pertama dari unsur singkatan nama pangkat juga ditulis menggunakan huruf kapital dan diakhiri tanda titik.
    • Contoh: Kol. (kolonel).

9. Dokter Profesi (dr.) huruf kecil
Penulisan gelar profesi dokter (dr.) dengan huruf kecil merupakan salah satu aturan spesifik dan unik dalam bahasa Indonesia. Dalam konteks Nama dan Gelar pada pedoman EYD V, aturan ini berfungsi sebagai pembeda krusial sekaligus pengecualian dari kaidah kapitalisasi singkatan gelar pada umumnya.
Untuk gelar profesi medis (dokter), singkatannya wajib ditulis menggunakan huruf kecil seluruhnya dan diakhiri dengan tanda titik.
Contoh yang Benar: dr. Sri Pujiati atau dr. Indah Utami.
Letak Penulisan: Gelar profesi ini ditulis di bagian depan sebelum nama orang.

10. Pemisah Nama dan Gelar Menggunakan Koma
Pemisahan Nama dan Gelar: Nama orang dan gelar di belakangnya wajib dipisahkan menggunakan tanda koma (,)

11. Nama Geografi
a. Aturan Nama Geografi sebagai Nama Diri
Huruf kapital wajib digunakan sebagai huruf pertama nama geografi yang merujuk pada entitas geografis yang spesifik dan unik.
  • Contoh Nama Diri Geografi: Danau Toba, Asia Tenggara, Benua Afrika, Gunung Semeru, Jazirah Arab, Lembah Baliem, dan Selat Lombok
  • Di sini, kata penanda geografis (danau, gunung, selat) ditulis kapital karena bersanding dengan nama diri (Toba, Semeru, Lombok) membentuk satu kesatuan nama geografis yang utuh.
b. Batasan dan Pengecualian pada Kategori Geografi
Tiga kondisi penting di mana huruf kapital pada unsur geografi harus ditulis dengan huruf kecil (nonkapital):
1) Tidak Diikuti Nama Diri
Jika kata geografis berdiri sendiri atau hanya berfungsi sebagai istilah umum tanpa diikuti oleh nama spesifiknya, huruf pertamanya ditulis nonkapital.
  • Contoh: berlayar ke teluk, mandi di sungai (atau kali), menyeberangi selat, berenang di danau, atau pergi ke arah tenggara.
2) Digunakan sebagai Nama Jenis
Huruf pertama nama diri geografi ditulis nonkapital jika digunakan untuk menamai atau mengklasifikasikan suatu jenis benda/produkk. Hal ini terjadi karena kata tersebut telah melebur menjadi identitas kelompok benda yang dapat dikontraskan dengan jenis lain di kelompoknya.
  • Contoh Flora/Fauna: jeruk bali, kacang bogor, nangka belanda, petai cina, pisang ambon
  • Contoh Benda/Bahan: gula jawa (dikontraskan dengan gula pasir atau gula aren), kunci inggris (dikontraskan dengan kunci ring), dan garam inggris
3) Menyatakan Asal Daerah — Tetap Kapital
Sebaliknya, huruf kapital tetap digunakan jika nama geografi tersebut merujuk pada asal daerah dari suatu kebudayaan atau produk khas
  • Contoh: satai Madura, batik Cirebon, bubur Manado, kopi Gayo, soto Banjar, tari Bali, dan film Indonesia

12. Asal Daerah
Huruf kapital digunakan jika nama geografi tersebut merujuk pada asal daerah dari suatu kebudayaan atau produk khas
  • Contoh: satai Madura, batik Cirebon, bubur Manado, kopi Gayo, soto Banjar, tari Bali, dan film Indonesia

13. Tahun, Bulan, dan Hari
Huruf pertama dari nama tahun, bulan, hari, serta hari raya wajib ditulis menggunakan huruf kapital
  • Tahun: tahun Hijriah, tarikh Masehi
  • Bulan: bulan Agustus, bulan Maulid
  • Hari: hari Jumat
  • Hari Raya: hari Lebaran, hari Galungan, hari Natal

14. Peristiwa Sejarah
  • Peristiwa Sejarah sebagai Nama Diri: Huruf pertama unsur nama peristiwa sejarah wajib ditulis kapital jika merujuk pada peristiwa spesifik yang dibakukan sebagai nama diri.
    • Contoh: Konferensi Asia Afrika, Perang Dunia II, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, dan Perang Candu
  • Peristiwa Sejarah sebagai Penjelas Umum (Poin 15): Huruf pertama ditulis nonkapital jika peristiwa tersebut tidak digunakan sebagai nama resmi peristiwa sejarah.
    • Contoh: "Kami memperingati proklamasi kemerdekaan setiap tahun." atau "Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia."

15. Judul Karya (Kapital Setiap Awal Kaya)
Secara umum, huruf pertama dari setiap kata yang membentuk judul karya wajib ditulis menggunakan huruf kapital.
  • Contoh Media Massa: Surat kabar Sinar Pembangunan atau majalah Bahasa dan Sastra
  • Contoh Judul Artikel/Makalah: Berita berjudul "Listrik Sahabat Petani"
16. Judul Karya (Kata Tugas Tetap Kecil)
Terdapat lima jenis kata tugas yang ditulis dengan huruf nonkapital (huruf kecil) di tengah judul:
  • Preposisi (kata depan): di, ke, dari, pada, tentang, terhadap, melalui, bagaikan, daripada, kepada, karena, sampai dengan.
    • Contoh: Film berjudul Garuda di Dadaku.
    • Contoh Posisi Awal: Buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (kata "Dari" ditulis kapital karena berada di awal judul, sedangkan "ke" ditulis kecil karena berada di tengah).
  • Konjungsi (kata hubung): dan, atau, serta, tetapi, kalau, meskipun, karena, sejak, setelah.
    • Contoh: Cara Menggunakan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar.
  • Interjeksi (kata seru): oh, ih, cih, dong, kok, sih, aduh, ayo, hei, eh, astaga
  • Artikula (kata sandang): si, sang, hang, dang, sri.
    • Contoh: Buku Si Kancil Nakal dan sang Raja Hutan (kata "Si" di awal ditulis kapital, sedangkan "sang" di tengah ditulis kecil).
  • Partikel (kata penegas): nah, nun, pun, per, yang.

17. Judul Karya (Kata Tugas Kapital)
Kata tugas harus ditulis menggunakan huruf kapital jika berada di posisi awal judul. Hal ini dikarenakan kata pertama dari sebuah judul memiliki posisi sintaksis yang tinggi—serupa dengan awal kalimat—sehingga memerlukan penanda visual berupa huruf kapital demi keterbacaan yang jelas, mengalahkan sifat bawaan kata tugas yang biasanya ditulis kecil.
Contoh klasik yang sangat baik untuk mengilustrasikan penerapan aturan ini secara kontras:
  • Kasus Buku "Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma"
    • Kata "Dari" merupakan kata tugas (preposisi/kata depan) Karena ia terletak di awal judul, huruf pertamanya wajib ditulis menggunakan huruf kapital: Dari
    • Sebaliknya, kata "ke" yang juga merupakan preposisi, ditulis dengan huruf nonkapital (ke) karena terletak di tengah judul
  • Kasus Buku Si Kancil Nakal dan sang Raja Hutan
    • Kata "Si" adalah artikula (kata sandang) yang merupakan bagian dari kata tugas. Karena posisinya berada di awal judul, ia wajib ditulis kapital: Si
    • Sementara itu, kata "dan" (konjungsi) serta "sang" (artikula) yang berada di tengah judul tetap ditulis dengan huruf kecil: ... dan sang ...

18. Judul Karya (Kata Ulang Utuh)
  • Kata Ulang Sempurna (Dwilingga): Setiap unsur kata ulang ditulis dengan huruf awal kapital karena bentuknya yang utuh dan setara.
    • Contoh: "Hak-Hak Asasi Manusia Diatur oleh Undang-Undang"
    • Contoh: Makalah "Penerapan Asas-Asas Hukum Perdata"

19. Judul Karya (Kata Uang Sebagian)
  • Kata Ulang Tidak Sempurna (Berubah Bunyi atau Berimbuhan): Hanya unsur pertamanya saja yang ditulis menggunakan huruf kapital, sedangkan unsur keduanya ditulis menggunakan huruf kecil.
    • Contoh: "Keluh-kesah Sopir Pengangkut Sayur-mayur ke Kota Jakarta"

20. Sapaan Langsung
Huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan wajib ditulis menggunakan huruf kapital ketika kata tersebut digunakan secara spesifik untuk menyapa, memanggil, atau mengarah kepada lawan bicara secara langsung
  • Bapak: ditulis kapital dalam kalimat "Kapan Bapak berangkat?" atau "Siapa teman Bapak itu?"
  • Ibu (atau singkatannya Bu): ditulis kapital dalam kalimat "Itu apa, Bu?" atau "Kapan, Ibu datang?"
  • Dik (singkatan dari adik): ditulis kapital dalam kalimat "Silakan duduk, Dik!" atau "Silakan masuk, Dik!"

21. Kata Ganti Anda
Kaidah EYD V menegaskan bahwa kata Anda wajib ditulis dengan huruf awal kapital ("A" besar) dalam posisi atau fungsi apa pun di dalam kalimat. Aturan ini berlaku universal baik ketika kata tersebut berdiri sendiri sebagai subjek, objek, maupun penunjuk kepemilikan.
  • Contoh Subjek/Objek: "Sudahkah Anda tahu?" atau "Sudahkah Anda mandi?"
  • Contoh Posisi Lain: "Surat Anda telah kami terima."

22. Bentuk Pengacuan
Bentuk pengacuan adalah penggunaan kata kekerabatan atau ungkapan tertentu untuk merujuk, menunjuk, atau membicarakan orang ketiga spesifik yang kita hormati atau bicarakan, bukan untuk menyapa mereka secara langsung.
  • "Besok Paman akan datang bersama kakakmu."
  • "Pekan depan Paman akan berangkat bersama adikmu."
  • "Bu, saya sudah melaporkan hal ini kepada Bapak."
  • "Pak, saya sudah menyampaikan hal itu kepada Ibu."
  • "Mereka pergi ke rumah Pak Camat."
  • "Para ibu mengunjungi Ibu Hasan."
Pada contoh-contoh di atas, kata Paman, Bapak, Ibu, dan Pak ditulis kapital karena kata-kata tersebut mengacu pada figur individu tertentu yang sedang dibicarakan.

23. Kata Kepemilikan
Ketika sebuah istilah kekerabatan berdampingan dengan kata ganti kepemilikan (seperti saya, kami, kita, mu, nya), fungsi kata tersebut otomatis meluruh menjadi kata benda umum (nomina generik). Oleh karena itu, huruf pertamanya wajib ditulis menggunakan huruf keci.
  • Contoh: "Kita harus menghormati bapak dan ibu kita."
  • Contoh: "Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga."
  • Contoh: "Dua orang kakak dan satu adik saya sudah menikah."


Setelah membaca penjelasan mengenai penggunaan huruf kapital, silakan kerjakan latihan soal berikut!

MENGENAL BAHASA INDONESIA: ABJAD SAMPAI PARAGRAF

1. Huruf Abjad dan Pengelompokannya Sistem ejaan Bahasa Indonesia menggunakan 26 huruf abjad Latin (A–Z) yang diatur dalam Pedoman Umum Ejaa...